Selasa, 21 Juni 2016

BERSEDEKAHLAH DENGAN YANG TERBAIK

"Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah di jalan Allah sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji." (Al Baqarah: 267)

Kita mengira dengan memberi fakir miskin uang Rp 1.000 atau Rp 2.000 kita sudah bersedekah. Padahal jika kita diberi uang sebesar itu kita tentu enggan mengambilnya bukan? Itulah maksud ayat di atas.
Islam tidak akan berjaya jika ummat Islam yang mampu atau berkelebihan hanya menyumbang receh. Nanti di bawah kita akan ketahui bagaimana Abu Bakar bahkan rela menyumbang seluruh hartanya untuk kejayaan Islam.
Janganlah kikir/pelit karena takut miskin. Jarang ada orang yang miskin karena rajin bersedekah.
Bersedekah adalah amalan sholih, perintah Allah dan Rosul-Nya. sedekah wajib maupun sunnah membersihkan harta kita dari harta yang sebenarnya bukan hak kita. bersedekah mengajari seorang hamba bahwa hidup didunia ini tidaklah sendirian. bersedekah juga dapat menumbuhkan rasa peduli, respect dan saling menyayangi.
Dalam bersedekah, terdapat adab dan tata cara agar apa yang kita berikan berguna dan benar-benar bermanfaat bagi orang lain, dan juga diterima oleh Allah. Diantara adab tersebut adalah bersedekah dengan barang yang baik atau yang terbaik. Contohnya, jika kita hendak memberikan makanan kepada orang miskin yang kita temui, hendaklah kita memberikan minimal makanan yang sama dengan makanan yang setiap hari kita makan, bukan memberikan makanan sisa atau makanan yang murahan.
Bersedekah adalah perbuatan mulia dan tidak patut dinodai dengan bentuk pemberian yang kurang layak. Allah sendiri pun tidak akan menerima jika sedekah itu adalah barang yang buruk atau barang yang kita pun tidak mau menggunakannya, atau jika makanan, kita pun tidak mau memakannya, karena sesungguhnya Allah adalah indah dan mencintai yang indah-indah.
Ketika seseorang bersedekah dengan barang yang buruk karena takut akan habis hartanya, maka sesungguhnya setan telah merasuk dalam niatnya. Karena rasa takut akan kemiskinan hanyalah datang dari setan. Takut akan kekurangan, itulah bisikan setan kepada manusia dan setan adalah musuh nyata bagi kita.
Seorang muslim sejati bermental berbagi, bersedekah dengan barang-barang terbaik yang dimiliki. Karena demikianlah, jiwa muslim adalah jiwa yang kaya, mental kaya raya yang sama sekali tidak terpengaruh dengan bisikan dan rasa takut dari setan yang terkutuk. Sebagaimana firman Allah dalam Surat Al-Baqoroh ayat 267.
Berbicara tentang mempersembahkan yang terbaik, saya jadi teringat sebuah kisah Israiliyat tentang Habil dan Qabil putra Nabi Adam, Ketika Qabil menolak keputusan Allah dan menyatakan bahwa ia tidak mau mengawini Lubuda, karena wajahnya tidak secantik adiknya sendiri lqlima. la berkata bahwa ia lebih patut mempersunting adiknya sendiri lqlima sebagai isteri dan tidak rela menyerahkannya untuk Habil.
Kerana Qabil tetap berkeras kepala tidak mau menerima keputusan tersebut, maka Nabi Adam menyerahkan segalanya kepada Allah, sehubungan tentang cara memutuskan perjodohan tersebut.
Caranya dengan menyerahkan kurban persembahan kepada Allah. Dan barangsiapa yang diterima kurbannya, berhak atasnya untuk memilih pasangannya.
Qabil dan Habil menerima solusi itu. Habil keluar dan kembali membawa ternak terbaiknya. Sedangkan Qabil datang dengan sekarung gandum yang dipilih dari hasil panen yang rusak dan busuk. Kemudian diletakkan kedua kurban itu di atas sebuah bukit lalu pergilah keduanya menyaksikan dari jauh apa yang akan terjadi.
Terlihatlah api besar yang turun dari langit menyambar kambing binatang korban Habil yang seketika itu musnah termakan oleh api sedang karung gandum kepunyaan Qabil tidak tersentuh sedikit pun oleh api dan tetap tinggal utuh. Allah memilih kurban yang baik dari Habil.
Kisah yang lain mengenai mempersembahkan harta terbaik juga tak perlu jauh-jauh kita cari. Rasulullah junjungan kita, ketika beliau menggunakan pakaian baru dan bagus dan ada sahabat yang memuji keindahannya, tanpa berlama-lama beliau langsung menyedekahkannya untuk orang yang memuji tersebut.
Lalu bagaimana dengan kita? Mampukah kita mengikhlaskan hati agar rela mempersembahkan yang terbaik untuk disedekahkan? Hanya kita sendiri yang mampu menjawab dan mengusahakannya. Allahumma yassir walaa tu'assir.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar